Media Prancis: Indonesia Panggung Teater Serangan Teroris


Logo Surat Kabar Prancis Le Monde

Serangan bom di Jakarta menggores kemanusiaan. Bergantian, serangan dilakukan berkelanjutan, beberapa pelaku juga menembakkan peluru ke arah polisi dan kerumunan masyarakat.

"Dari peringatan yang disampaikan, Indonesia akan terjadi 'konser' yang akan jadi berita internasional. Warning dari grup ISIS. Dan kami juga sudah memberikan warning jauh-jauh hari sebelumnya, bukan untuk menakut-nakuti," kata Anton Charliyan, Kadiv Humas Polri seperti dilansir dari kompas.com (14/1). 

Kengerian terasa, sampai masyarakat terbelah dan bingung harus berbuat apa. Di sosial media, beberapa netizen menyerukan untuk tidak mendukung tagar #prayforjakarta. Sebabnya sebatas pada persoalan ekonomi: jatuhnya nilai tukar rupiah, kecemasan investor, suku bunga naik, dan sebagainya. Masyarakat tidak memahami betul hitung-hitungan ekonomi. Pengetahuan itu hanya sekadar info dari media dan memang bahwa ada kecemasan dari para segelintir orang yang memiliki kepentingan. 

Lantas, perlukah kita bertopeng sekaligus didikte? Indonesia tidak takut. Di luar sana, profesionalisme aparat keamanan dan intelijen sedang dicoba. Sejauh mana pengungkapan kasus dan motif di samping mereka harus meredam juga mengupayakan tidak ada serangan lanjutan lagi. 

Di luar sana, tanpa ada yang tahu dan tak ingin terlibat lebih dalam. Tragedi kemanusiaan sangat menakutkan. Empati turut disampaikan sampai situasi hening. Di luar sana, tanpa batas ruang dan waktu, ternyata negeri ini turut diperbincangkan. 

Berita datang dari laman daring Prancis lemonde.fr, sesaat setelah terjadi serangan. Ini Bukan Serangan Keagamaan "Le pays était en état d’alerte maximal, après que les autorités ont annoncé avoir déjoué un projet d’attaque visant des responsables gouvernementaux et des étrangers notamment, alors que l’Indonésie a déjà été le théâtre de plusieurs attentats à la bombe revendiqués par des groupes islamistes." 

Miris hati membaca paragraf tersebut. Hampir seluruh media baik nasional maupun internasional menyebut ini sebagai sebuah serangan teroris. l’Indonésie a déjà été le théâtre de plusieurs attentats dan des groupes islamistes. Bagi media Prancis, inilah citra negara Indonesia, panggung teater aksi teroris dari kelompok Islam. Bukankan Islam di negeri ini adalah sebuah kedamaian dari representasi kemajemukkan masyarakat Indonesia? 

Saya selalu berpikir, apa artinya mengaitkan ini dengan suatu kelompok. Jelas bahwa keinginan pelaku ini untuk menciptakan sebuah ketakutan terhadap targetnya. Agama yang tampak itu secara simbolik yang tidak mewakili sebuah identitas secara penuh. ISIS diduga bertanggungjawab. Pengakuan ini justru sekaligus penegasan terhadap eksistensi kelompok ini. 

Indonesia tidak takut. PBNU seturut demikian. GP Ansor segera disiagakan untuk membantu masyarakat dan aparat keamanan untuk menciptakan kondusifitas dan upaya pencegahan. Sikap ini menunjukkan bahwa keadaan sebenarnya atas peristiwa ini sudah mencoreng nama Indonesia. Pelekatan agama pada wacana pemberitaan harus dihentikan. 

Saya berpikir bahwa seluruh masyarakat mengutuk serangan ini dari suku, agama atau ras apapun. Propaganda media asing harus dikritisi karena dampak peristiwa ini akan berbeda terhadap paradigma negara barat terutama Prancis yang masih dalam suasana duka setelah rentetan serangan teroris sebelumnya. 

Pentingnya analisis secara menyeluruh dengan kehati-hatian amat diperlukan. Tuduhan terhadap satu kelompok atau golongan hanya akan membuat kecemasan yang tak berdasar dan tak bernalar untuk peri kehidupan bermasyarakat kita. 

Saya menyayangkan pemberitaan beberapa media berita Prancis yang ternyata masih menyiratkan sebuah prasangka pada suatu kelompok atau ideologi keagamaan. Peristiwa ini diberitakan lalu menjadi citra bagi masyarakat Prancis. Ini nantinya mempengaruhi pandangan mereka atas Indonesia yang sedari dahulu memiliki akar kuat atas keseragaman. Sangat disayangkan.

Comments